.::bintang kecilku::.

November 30, 2005

Tentang merah yang tak pernah menjadi biru*

Filed under: Hello World?!!!, Fave - reena @ 2:11 am

Mendadak tadi malam aku pengen buka buku kecil itu lagi, setelah tadi malam aku berbincang-bincang dengan si pemberi buku. Sebenernya perbincangan biasa, dia cuma mampir ke rumah setelah ke K27. Seperti biasa, perbincangan kami selalu diwarnai oleh celaan dan ejekan, sesekali pengulangan kata karena aku ga denger (hehehe … aku emang budi … budek dikit … hikiki) …

Dan lagi-lagi, mungkin aku bukan tuan rumah yang baik, karena aku selalu nanya sama tamu, “mau minum apa engga?”
Padahal menurut dia, kalo mo ngasih minum ga usah pake nanya-nanya dulu, langsung aja keluarin. Hehehe.
Jadi inget satu tulisannya di buku kecil itu. Di buku itu dia nulis, kesopananku (kalo boleh dinilai pakai angka) nilainya cuma 65!! … hekekeke … Dia yang ngerasa nulis itu cuma cengar-cengir doang.

Karena itulah, setelah dia pulang, aku langsung buka lemari, nyari buku kecil, dan langsung aku baca lagi dari awal hingga akhir. Kalo aku boleh cerita sedikit, artikel yang ada di buku kecil itu bukan berisi tentang cerita pendek atau apa. Tapi cuma berisi catatan harian si penulis yang ada sangkutannya dengan aku. … Ya itu tadi, salah satunya adalah penilaian penulis tentang kesopananku, yang cuma dinilai 65!!! … *hakakakaka*
Lainnya??? eR-Ha-eS aja ya … ga enak sama yang nulis … abis isinya muji semua sih … *shy mode on* … hekekeke …

Rabu, 30 November 2005, pk. 09.10 WIB

*judul buku kecil dari seorang teman yang akan selalu menjadi sahabatku, yang diberikan pada saat ultahku beberapa bulan lalu. thanks for the notes, and thanks for everything …

November 25, 2005

Senangnya hatiku

Filed under: Hello World?!!!, Worksheet - reena @ 10:46 am

Puas, senang, bangga … Itu yang dirasakan kami, tim pemberitaan Yes Radio, hari ini.
Mungkin perasaan itu terlalu berlebihan. Karena bagi jurnalis lain yang telah berkecimpung lama di dunia ini, apa yang telah kami lakukan adalah sesuatu yang amat biasa dan tidak ada istimewanya sama sekali. Tapi bagi kami, setidaknya aku -yang memang terhitung ‘hijau’ di bidang ini dan kadang sesekali ngerasa ’salah alamat’ berkecimpung di dunia ini, hal ini bikin kami puas dan (saya rasa kami patut ngerasa) bangga.

Hari ini, kami hanya berhasil menghubungi Emi Klanawidjaja -kuasa hukum keluarga Misno, salah satu pelaku bom Bali ke-2 asal Desa Ujungmanik, Kecamatan Kawunganten, Cilacap, dan mengajaknya sedikit berbincang live selama beberapa saat, setelah sholat Jumat tadi.

Puas, karena akhirnya kami bisa mendapatkan nomor HP Pak Emi setelah menghubungi beberapa teman jurnalis di Jakarta, setelah hunting dari kemaren sore.
Puas, karena dengan perbincangan tadi setidaknya menebus ‘kesalahan’ kami. Kesalahan, karena untuk ukuran kasus nasional, kami terkesan ‘lambat’ dan kalah dengan media nasional yang notabene jauh dari Cilacap. Bahkan sampai hari ini, belum ada reporter kami yang turun ke sana. Padahal, lumayan dekat (dibandingkan dengan Jakarta), ‘hanya’ +/- 40 km.
Puas, karena kami jadi tau prosesi pemulangan jenazahnya sekaligus perkiraan kedatangan dan pemakaman, sehingga bisa merencanakan apa yang akan dilakukan besok.
Bangga, … mhhh, susah mendeskripsikan rasa bangga yang kami rasakan saat ini. Meski pimpinan tidak memberi selamat atau pujian atas prestasi (kalau boleh kami bilang begitu) itu, setidaknya kami puas dan bangga dengan hasil kerja kami itu. Yah, sebagai penghibur (karena tanggapan yang tidak kunjung datang dari pimpinan), kami saling dan sering mengucapkan “Selamat, ya” sore ini … hakakaka … kesian deh kite …
Seneng juga, karena meski tetep ‘adem ayem’, pak bos sangat kooperatif waktu aku ajak rembukan masalah biaya untuk reporter yang ke sana besok. Dan akhirnya, keluarlah nilai nominal yang aku (dan kami) anggap cukup. ^_^

Terus terang dengan apa yang terjadi hari ini, sedikit banyak memberi suntikan semangat dan kegairahan tersendiri bagi kami. Semoga, bukan hanya untuk hari ini dan 2-3 hari ke depan, tapi seterusnya.
Besok, mas Adi langsung ke Kawunganten. Semoga malam ini sampai besok ngga hujan. Karena katanya, kalo hujan, akses jalan ke sananya sulit. Dan semoga juga, kami ngga kecele kelewatan moment penting itu besok. Amin.

Jumat, 25 November, pk. 17.30 WIB

PS : Thanks to God, and also thanks to mas Irsyad Smart FM Jakarta (meski ternyata aku belum beruntung karena ternyata mas Irsyad ga punya nomer Pak Emi, tapi thanks atas materi yang dikasih pas aku masih di Solopos FM, terutama tentang ‘how to create a talkshow’. It helps me a lot, dan aku praktekin di Cilacap, lho), mas Agus 68 H (yang dihubungin mas Adi, meski ternyata ga punya juga), Bang Folber Indo Pos Jakarta (yang udah ngasih nomernya mas Agus Mutaqim), mas Agus Mutaqin (yang udah ngasih nomernya mas Arnaz), mas Arnaz (yang udah ngasih nomernya Pak Emi), dan orang-orang yang dihubungin mas Adi dan Ari yang nyari nomer teleponnya Kades Ujungmanik. Makasih juga buat mba Sari yang udah jadi host yang luwes dan komunikatif pas ‘ngobrol’ sama Pak Emi.
Juga buat timku, Sandi, mas Adi, dan mas Ari (terbukti aku orang yang paling cantik, kan).

Hehe, tulisanku berlebihan ya? Maap deh, mungkin ini lebih buat konsumsi aku pribadi yang akan aku buka dan baca lagi, untuk nge-recharge kalo aku lagi patah semangat lagi … lagi … dan lagi.

November 23, 2005

Penting dibaca di kala sehat*

Filed under: Hello World?!!! - reena @ 1:48 pm

Ingat, sakit itu ngga enak!!!

Bayangin …
- ngga bisa makan makanan enak
(dilarang makan yang pedes-pedes, yang asem-asem, yang kecut-kecut, yang ini-ini, yang itu-itu. trus mo makan apa?)
- ngga bisa jalan-jalan, kalau ga mau lebih parah sakitnya
- belum lagi rasa sakitnya itu sendiri (kalo bisa dicopot, dicopot aja deh, dari pada sakit mulu)
- cuma bisa liat langit-langit kamar doang, bosen!
- panas, tiduran terus di atas kasur
- ninggalin banyak tugas kantor. begitu masuk, langsung diberondong sama seabrek tugas yang tertunda …
- dan masih banyak lagi (kalo inget yang lain lagi, diisi ya non) …

Jadi tolong ya reen, hidup yang sehat, mulai lagi olah raga dikit-dikit, makan teratur (kalo bosen sama makanan di warung depan, cari aja di luar. Itung-itung refreshing kecil-kecilan di hari kerja), seimbangin makanannya, mulai suka sayur, diusahain (harus!) rutin makan buah, dan (wajib diisi lagi kalo inget sesuatu yang lain lagi) …

Rabu, 23 November 2005, pk. 20.47 WIB

* dibuat waktu reena masih dalam tahap penyembuhan … hiks ..

Tentang sebuah perjalanan yang menyenangkan #2

Filed under: Hello World?!!! - reena @ 1:36 pm

… lanjutan …

Hhhh, dah berapa lama aku ga ke daerah ini. Sampai-sampai aku kudu celingak-celinguk, wondering, “Kok jalanannya panjang banget sih. Dulu, kaya’nya ngga segini panjang.” Nyampe rumahnya Deni, dah banyak orang. Balai Desa yang ada di sebelah rumahnya pun dah penuh sesak sama pengunjung. “Yah, ga dapet, deh.” Setelah si Kuning parkir, aku sama Roy masuk ke rumah Deni dulu, dari pada jadi perhatian orang karena dateng belakangan.

Sambil cengar-cengir sama ibu-ibu yang ada di situ (ga kenal siapa mereka), aku style yakin tetep masuk rumah yang baru direnovasi itu (jadi agak asing). Pas masuk ruang tengah, aku langsung ngeliat sosok Dodik, adiknya Deni. “Fiuh, akhirnya ada orang di sini yang aku kenal.” Trus iseng aja nanya sama Dodik, “Dik, Deni mana?”
“Tuh, masih di kamar. Masuk aja.” Masih agak bingung (kok belum mulai?), aku masuk ke salah satu kamar yang ditunjuk Dodik. Alhamdulillah, ternyata ratu sehari itu masih didandanin. “Ini gara-gara Mas Heru telat jemput tukang riasnya,” jelas Deni menjawab kebingunganku. Di kamar itu, ada Mba Dewi (langsung deh bermaaf-lahir-batinan dan sekaligus ngucapin ‘Selamat Menempuh Hidup Baru’ yang telat beberapa bulan, hehe) dan Hesti (temen kuliah Deni).

Cukup lama jarak antara kedatanganku sama prosesi akad nikahnya. Jadi, aku dan Deni sempat lepas kangen dan bertukar cerita dulu. Cerita tentang kerjaan Mas Sigit (yang beberapa saat lagi akan jadi suaminya), tentang Deni yang cari seserahan sendiri karena Mas Sigit yang ga bisa keluar kantor (kok ga ngomong-ngomong sih. Kalo tau gitu kan aku sempetin ke Solo akhir pekan, buat nemenin cari barang-barang itu), tentang rencananya yang tidak terencana setelah nikah (mo tinggal di Wonogiri dulu apa di Solo?), tentang sepupu kecilnya, Dian, yang semakin centil (maksa jadi ‘patah’ yang ngipasin pengantin. Padahal tadinya, ga ada ‘patah’2an, hehe), tentang Ana yang ngga bisa dateng karena ada saudaranya yang meninggal, tentang Mba Leni yang juga ngga bisa dateng, dan lain-lain. Ngga puas sih. Tapi gimana lagi, lha wong acaranya dah mau mulai.

Akhirnya, acara pengucapan ikrar janji setia sehidup semati itu dilangsungkan. Ngintip prosesi dari pintu samping (males duduk manis di antara tamu undangan) sembari jinjit untuk melihat dengan jelas kedua mempelai. Deni dan Mas Sigit pakai baju merah (udah dua kali ini, 2 orang yang mengaku padaku seneng warna biru tapi ketika nikah pakai baju merah. Apa nanti, aku yang suka warna merah, kalau nikah pakai baju biru, ya???). Gagah dan cantik (hal yang selalu aku sangkal di hadapan mereka. hehehe).

Setelah ijab kabul, mereka ‘digiring’ ke pelaminan. Ngga ada prosesi adat Jawa seperti tarik-tarikan ayam, injak telur, dll, pada acara itu. Meski udah jejer, aku tetep aja melongokkan kepala di pintu samping. Pengen ‘ngejek’ mereka. Hehehehe.
Setelah itu, mereka dikasih seabrek wejangan dengan pakai bahasa Jawa, yang sedikit demi sedikit bisa aku tangkap. Pada saat itu, aku lebih milih duduk di teras rumah neneknya yang ada di antara rumah Deni dan Balai Desa sembari ngobrol sama Mba Dewi (dan dikenalin sama suaminya, Mas Heru), Hesti, dan akhirnya hanya sama Roy.

Sebelumnya, aku juga ketemu sama Eko (adik angkatan di Mahafisippa yang sekarang jadi temen kerja Mas Sigit di Bank Muamalat Solo) dan Papang (saudaranya Mas Sigit, seangkatan sama aku dan Deni, dan sekarang kerja di BPK).

Udah deket, jam setengah 3 sore, udah mulai gelisah. Karena perjalanan masih harus berlanjut ke tempat nenek, sebelum jemput Rio lagi di Jogja. Untungnya, petuah-petuah itu ngga lama berakhir. Dan aku pamitan. Pekewuh juga. Soalnya, para tamu belum beranjak dari tempat duduk. Padahal aku harus kudu segera pamitan sama Deni dan Mas Sigit. Dengan memberanikan diri (dengan memasang tampang sedikit innocence), aku masuk ke Balai Desa, setelah sebelumnya kode-kodean sama Mas Sigit, Deni, dan Bapak-Ibunya Deni. Baru selangkah masuk Balai Desa, aku dipanggil sama seorang ibu. “Mbak Rina.” Langsung aku cari sumber suara dan mendapati seorang ibu sedang tersenyum. “Aduh, siapa yah?” batinku. “Mampir ke rumah, Mbak Rina,” undahg ibu itu. “Terima kasih, bu. Tapi, Rina abis ini harus ke tempat Nenek. Lain kali, ya bu.” sambil masih mikir siapa yah … Aduh, dosa bener aku ini. “Kapan nyusul?” tanyanya lagi. “Minta doanya aja, bu, biar cepet juga,” jawabku, jawaban yang sekaligus permintaan tulusku teramat sangat … hehe.
Setelah basa-basi sedikit itu, aku langsung jalan ke pelaminan. Ke tempat Bapak-Ibunya Deni. Hmmmm, kangen sama mereka. Terus langsung ke Deni dan Mas Sigit. Setelah sempet mengabadikan moment sekali seumur hidup itu (semoga), aku sekalian pamit sama mereka. Abis itu, salaman sama bapak-ibunya Mas Sigit. Sebelum keluar ruangan, pamitan sama ibu tadi, meski masih berusaha membolak-balik memori karena belum inget siapa. Setelah itu, pamit sama keluarga besarnya Deni, Mba Dewi, Dodik, dan Hesti. Oya, sebelumnya juga ketemu sama Roni anak Komunikasi-99 (sekarang dia di PH, salah satu kerjaannya bikin “Toloooong” yang tayang di SCTV).

Huffff … selesai satu agenda hari itu. Tapi perjalanan masih panjang, karena kami harus mampir tempat nenek, trus ke Jogja, trus balik ke Cilacap hari itu juga …
Menyusuri jalanan yang sama ketika berangkat, aku sempet bertanya-tanya, kapan bisa kembali ke sana lagi ya? Kalau pun aku ke rumah Deni, trus aku tidur di mana, sama siapa? Masak aku harus tidur di tengah, di antara Deni dan Mas Sigit … mmmh, mau sih … hekekeke …
Dan akhirnya! Aku ingat siapa ibu yang tadi menyapa aku. Yaitu ibunya Papang. Kami sempat bertemu, sekali atau dua kali di rumah Mas Sigit, bertahun-tahun lalu. Maaf ya, bu … ingatan reena emang ngga begitu baik.

Perempatan Baturetno … pertigaan Giriwoyo … dan akhirnya perempatan (sebenernya perlimaan) Dringo. Sebelum ke tempat nenek, si kuning aku minta belok dulu ke kiri, mampir ke tempat Bulik Larmi. Setelah parkir, langsung aku menuju ke pintu depan sembari was-was, “Kok pintu rapet semua? Pada ke mana, ya?”. Diketok-ketok, ngga ada sahutan dari dalam. Coba dibuka, ternyata pintunya dikunci. Pada saat yang sama terdengar suara gergaji dari arah samping. Alhamdulillah, ada Paklik Nardi di sana. “Rin, rumah paklik dah pindah.” Waduh!! Lha yang aku ketok-ketok tadi rumah siapa? Untung aja dikunci. Coba kalo ngga dikunci … waduh ga kebayang malunya aku …
Trus pindah ke mana? Hihihi … ternyata cuma di sebelah. Tanah yang tadinya kosong, ternyata sudah berdiri satu rumah lagi. Alasannya pindah, “Rumah lama sudah harus direnovasi. Daripada nge-renovasi mending bikin rumah lagi aja.” Waduh!! Padahal rumahnya yang lama kondisinya masih bagus. Jadi kepikiran sama rumahku yang usianya hampir sama denganku. Hiks … kapan aku bisa nyumbang untuk renovasi rumahku itu, ya … Ada-ada aja alasan paklikku itu.

Setelah ngobrol barang sejenak dua-jenak sama paklik dan Budi yang lagi pulang kampung, aku sama Roy ke tempat nenek. Paklik juga ikut, naik motor.
Nggak begitu surprise sih nenek dan paklik-bulikku yang ada di tempat nenek. Karena ibundaku dah ngomong sebelumnya kalau aku mau mampir. Dari obrolan kami, aku tau, ibundaku sakit pas hari Lebaran ke-2 karena kelelahan mempersiapkan silaturahmi keluarga besar yang kebetulan diadakan di tempat nenekku. Tapi katanya, ibunda dah agak sehatan waktu pulang.
Acara kangen-kangenannya ngga bisa lama, karena kami dikejar-kejar waktu. Sebelum pulang nenek tanya, “Calonmu, nduk?” Waduh, jawab apa nih … “Iya, mbah.” … “Trus kapan? Rak sah suwe-suwe, ben aku iso teko.” … “Minta doanya aja, ya mbah” …
Pertanyaan yang sebenernya dah aku prediksi bakal ditanyakan. Tapi tetep aja aku ngga siap ngejawab.

Setelah pamitan sama semua (pekarangan luas milik nenekku itu kini berdiri 3 rumah. Rumah nenek, rumah ‘Lik Musim, dan rumah ‘Lik Mul. Yah, sekalian menemani nenek dan kakek di usia senja mereka), si kuning mampir lagi ke tempat ‘Lik Nardi. Setelah nge-drop ‘Lik Larmi, kami lanjutkan perjalanan ke rumah baru ‘Lik Munah - yang akhirnya memutuskan kembali ke Wonogiri dari Jakarta, yang searah. Sempat sholat Maghrib di rumah ‘Lik Munah, si Kuning sudah melindas aspal kembali. Sebelum keluar Pracimantoro, ngantri bensin untuk bekal ke Jogja. Baru keluar dari pom bensin, di SMS sama Rio yang kehilangan kakaknya. Aduh, jadi ngga enak.
Di perjalanan ke Jogja, kesadaran dah mulai ilang. Mata udah mulai merem melek, bahkan sesekali sempat tak sadarkan diri. Tapi ga lama kemudian bangun lagi. Ngga enak sama supir :p

Berhubung hari udah gelap, jadi bisa nikmatin keramaian kota Jogja dari Pathuk. Indaaaaaah, banget. Pengennya berhenti dulu. Tapi, dari pada dicemberutin banyak orang, kami cuma bisa ngeliat lampu-lampu itu dari balik kaca mobil yang berjalan pelan.
Perjalanan pulang kerasa cepet banget. Tau-tau dah nyampe Jogja dan nyampe di rumah oomnya Roy, jam 8 malam. Tetapi, alamak. Ternyata semua lagi pergi makan malam. Dan setelah ditunggu, mereka baru balik jam 10-an. Hihihi.
Sempet ditahan jangan pulang malam itu, sama oomnya Roy. Tapi berhubung besok pagi Rio harus balik ke Jakarta, akhirnya perjalanan pulang ke Cilacap tetap dilanjutkan malam itu.

Penumpang mobil bertambah dengan tante dan sepupu Roy yang juga mau sama-sama ke Jakarta, besok. Yang di belakang setir, ganti si Rio, untuk memberi kesempatan Roy istirahat. Dan benar saja, baru jalan dikit, semua penumpang sudah ‘tewas’. Sempet ngelilir sesekali di perjalanan sebelum akhirnya melanjutkan tidur lagi. Akhirnya, yang ditakutkan kejadian juga, macet di Gombong!! Hujan deras lagi (sebenarnya sih ngga ngaruh, lha wong ada di dalem mobil). Lama, macetnya dan lama pula kami tertidur). Sampai-sampai, Rio yang tadinya ada di belakang setir entah sejak kapan sudah berganti Roy. Katanya sih, macet di Gombong sampai 1,5 jam. Yah, ngga terlalu lama sih. Tapi tetep aja, lama.

Setelah itu perjalanan lancar. Dan akhirnya, sekitar jam 4-an, si Kuning mulai masuk wilayah Cilacap.
Huffff, kalo diitung-itung, hampir 24 jam aku ada di mobil … Capek sih, tapi rasa lelah itu terbayarkan oleh kebahagiaan pasutri baru Deni dan Mas Sigit, ketemu dengan keluarga besar mereka, ketemu sama keluarga besarku, dan ketemu dengan sebagian keluarga Roy. Yah, impaslah.

Setelah itu, seharian aku meringkuk di tempat tidur … hihihi …

… and that’s how the story ended …

Rabu, 23 November 2005, pk. 20.36 WIB

Tentang sebuah perjalanan yang menyenangkan #1

Filed under: Hello World?!!! - reena @ 12:52 pm

Sebenarnya sudah lama lewat. Tapi aku harus nulis catatan perjalanan ini, karena perjalanan ini menjadi salah satu perjalanan yang ngga pengen aku lupain.
Sebenernya juga, agak-agak nggak enak sama anak Tulungagung, karena lagi-lagi tulisan ini lumayan deket kaitannya sama Lebaran … hekekeke …

Saranku, lewatin aja, dari pada borring. Soalnya panjang banget, dan hanya catatan pribadi aja.

Tapi kalau mau nyimak, silakan.

Jadi, begini ceritanya …
Cerita ini dimulai hari Minggu (5/11) dini hari, dari rumah Niken di Kopergusi, tempat aku nginep malam itu. Hikiki, iya, aku nginep di tempat Niken soalnya Cahyo waktu itu dah ke Wonogiri buat jemput keluarga di tempat nenek di Wonogiri. Dari pada mati kutu sendirian di rumah, lebih baik aku ngungsi di tempat pengungsian … eh, temen.
Sebelumnya, malam minggu, ngumpul di tempat Didin, bareng Ato, Barens, Novin, dan tentu Niken (banyak yang ga bisa ngumpul, soalnya masih pada mudik). Tema besar yang jadi bahasan waktu itu adalah merenung bersama, karena mungkin Lebaran tahun depan ga semua kami yang hadir waktu itu bisa ngumpul bareng lagi. Karena naga-naganya, dah banyak yang pengen melepas masa lajangnya …
Back to story, jam 3 dini hari dah di miskol sama Roy, ngebangunin untuk siap-siap.
Setelah itu, dijemput di tempat Niken sekitar jam 4-an. (Ga enak sama orang tuanya Niken. Dateng jam 12 malem, pergi jam 4 pagi. Jadi, belum sempet kulonuwun dan pamitan)
Di mobil cuma ada Rio, ibunya Roy (Roy dan Rio bukan saudara kembar, tapi adik kakak) ga jadi ikut, katanya lagi ngga enak badan. Trus tujuan pertama adalah rumahku, untuk naruh baju kotor. Abis itu ke SPBU di depan komplekku. Pada saat itulah aku tersadar, “Oh no!!! Dompet ketinggalan di tempat tidurnya Niken!”. Sembari ngga enak hati, aku bilang ke Roy dan mau ngga mau kami harus kudu wajib balik ke rumah Niken. Jadi ga enak sama semua orang, karena ganggu Niken yang udah mau back to sleep again (setelah dari tempat Didin, aku dan Niken curhat-curhatan dulu sampai entah jam berapa. Pokoknya, aku ngerasa belom terlalu lama tertidur sampai akhirnya alarm HPku meraung-raung). Tapi, semua hal selalu ada hikmahnya. Kalau aku ga balik ke tempat Niken, dia bakal lupa ngasih oleh-oleh dari Cina, tempo hari. Hikiki …

Di perjalanan, … lumayan terkantuk-kantuk. Soalnya, dari kemaren-kemaren pekerjaan sudah membuatku gila (sedikit). Tapi, ngga jarang juga sport jantung karena ulang pengemudi motor yang udah balik dari mudik. “Whuzzzz … whuzzzzz” Entahlah, mungkin mereka punya 9 nyawa kaya’ kucing.
Ada satu hal menarik yang aku perhatiin dari para bikers itu. Hampir 99 persen, mereka pakai helm cakil, kaya’ yang udah janjian sebelumnya. Padahal sehari-hari, aku jarang ngeliat pengendara sepeda motor pakai helm cakil. Apa karena di Cilacap, ya? Beda sama Jakarta (para pemudik banyak yang dari Jakarta, kan) yang rata-rata lebih senang pake helm cakil.

Sampai di Yogya, sekitar jam 8.30. Makan soto dulu, trus ke rumah oomnya Roy (dan Rio, tentunya). Ga pake lama di sana, cuma ganti baju sambil sedikit ngobrol dengan tuan rumah, lalu perjalanan dilanjutkan lagi. Kali ini, langsung menuju Desa Sumber Agung, Wonogiri. Rencana awal berubah. Tadinya, dari Yogya, kami (aku dan Roy) mo naik motor ke Wonogiri. Tapi berhubung Rio lebih nyaman kalo keluar masuk kota gudeg pakai sepeda motor, akhirnya perjalanan ke Wonogiri tetap pake “si kuning”.
Dari Yogya (iiih, kok lebih enak nulis Jogja, yaaa), si kuning langsung masuk ke jalur Wonosari.

Ga ada hambatan yang berarti selama perjalanan, meski jalanan lumayan ramai. Hmmm, ternyata aku navigator yang lumayan. Buktinya, ga nyasar. Sempet khawatir, si Roy ngantuk, masalahnya pas malam Minggu, dia juga ada acara di rumahnya sampai malam. Tapi untungnya, karena ini jalur baru baginya, jadi dia ga ngerasa bosen dan ngantuk. Malah dia seneng banget waktu ngelewatin jalanan nanjak di Pathuk yang bisa ngeliat kota Jogja dari atas dan jalanan sempit berbelok-belok dan naik turun waktu mo masuk Pracimantoro.
Sepanjang perjalanan, selain nyari papan warna ijo petunjuk jalan, mata juga jelalatan ngeliat kendaraan dari arah berlawanan, siapa tau ketemu sama mobil keluarga, karena rencananya keluarga pulang dari tempat nenek, Minggu pagi. Tapi, meski udah nyampe Pracimantoro, Giri Belah, dan hampir masuk ke nDringo -tempat nenek, si Kijang tidak kunjung menampakkan batang hidungnya. Ternyata, waktu aku sms Cahyo, mereka dah nyampe Jogja, lagi makan siang! Kata Cahyo sih, dia ngeliat si Kuning di jalan berbelok di Pathuk. Tapi berhubung rencana awal kami mau naik motor, Cahyo kira itu mobil orang lain …

Masuk Pracimantoro, udah jam 12 lebih. Udah khawatir, ga dapet “moment penting”nya. Aku SMS Deni, “Pokoknya tunggu aku! Aku baru nyampe Praci.” Tapi apa dia baca SMS itu, aku ga tau. Perempatan nDringo dilewati, sekalian nunjukin ke Roy, “Rumah nenekku masih ke dalem lagi, Wi.” Tapi rumah nenek adalah sasaran kedua setelah aku ke Sumber Agung.

Pertigaan Giriwoyo-Pacitan akhirnya terlewati … ffiuuh! Setidaknya sedikit lebih dekat dengan Sumber Agung. Perempatan Batu tetap ramai. Untung ga macet, jadi ga lama kemudian bisa langsung keluar dari jejalan manusia dan kendaraan. Huuufff, semakin dekat. Tapi kok jalan ke Sumber Agung jadi semakin lama dan ga nyampe-nyampe, yah.
Di mobil udah yang resah dan gelisah bagai ada semut merah (apaan, sih!). Akhirnya! pertigaan itu keliatan. Sempet was-was juga sih. Aku lupa ancer-ancernya. Yang aku inget jembatan. Tapi itu artinya, kudu balik. Soalnya kalo dari arah Praci, jalan menuju rumahnya Deni sebelum jembatan itu, beda dengan perjalanan dari arah Solo. Tapi untungnya, jalanan kecil itu ga kelewatan, karena Roy udah aku wanti-wanti untuk jalan pelan. Sebelum belok ke kanan, aku inget-inget, “Ada plang dokter!” (Tapi, dokter siapa, aku lupa … hihi). Well, semakin dekat dengan tempat tujuan, neh …

Sanggupkah aku dan Roy sampai di tempat tujuan sebelum “moment penting” itu dilangsungkan … (hikiki, kayak yang di sinetron-sinetron)
Kelanjutan ceritanya ada di bagian dua, yah. Kalo dah give up, give up aja lho … ga maksa, kok … ^_^

Rabu, 23 November 2005, pk. 19.52 WIB

Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here