.::bintang kecilku::.

November 23, 2005

Tentang sebuah perjalanan yang menyenangkan #2

Filed under: Hello World?!!! - reena @ 1:36 pm

… lanjutan …

Hhhh, dah berapa lama aku ga ke daerah ini. Sampai-sampai aku kudu celingak-celinguk, wondering, “Kok jalanannya panjang banget sih. Dulu, kaya’nya ngga segini panjang.” Nyampe rumahnya Deni, dah banyak orang. Balai Desa yang ada di sebelah rumahnya pun dah penuh sesak sama pengunjung. “Yah, ga dapet, deh.” Setelah si Kuning parkir, aku sama Roy masuk ke rumah Deni dulu, dari pada jadi perhatian orang karena dateng belakangan.

Sambil cengar-cengir sama ibu-ibu yang ada di situ (ga kenal siapa mereka), aku style yakin tetep masuk rumah yang baru direnovasi itu (jadi agak asing). Pas masuk ruang tengah, aku langsung ngeliat sosok Dodik, adiknya Deni. “Fiuh, akhirnya ada orang di sini yang aku kenal.” Trus iseng aja nanya sama Dodik, “Dik, Deni mana?”
“Tuh, masih di kamar. Masuk aja.” Masih agak bingung (kok belum mulai?), aku masuk ke salah satu kamar yang ditunjuk Dodik. Alhamdulillah, ternyata ratu sehari itu masih didandanin. “Ini gara-gara Mas Heru telat jemput tukang riasnya,” jelas Deni menjawab kebingunganku. Di kamar itu, ada Mba Dewi (langsung deh bermaaf-lahir-batinan dan sekaligus ngucapin ‘Selamat Menempuh Hidup Baru’ yang telat beberapa bulan, hehe) dan Hesti (temen kuliah Deni).

Cukup lama jarak antara kedatanganku sama prosesi akad nikahnya. Jadi, aku dan Deni sempat lepas kangen dan bertukar cerita dulu. Cerita tentang kerjaan Mas Sigit (yang beberapa saat lagi akan jadi suaminya), tentang Deni yang cari seserahan sendiri karena Mas Sigit yang ga bisa keluar kantor (kok ga ngomong-ngomong sih. Kalo tau gitu kan aku sempetin ke Solo akhir pekan, buat nemenin cari barang-barang itu), tentang rencananya yang tidak terencana setelah nikah (mo tinggal di Wonogiri dulu apa di Solo?), tentang sepupu kecilnya, Dian, yang semakin centil (maksa jadi ‘patah’ yang ngipasin pengantin. Padahal tadinya, ga ada ‘patah’2an, hehe), tentang Ana yang ngga bisa dateng karena ada saudaranya yang meninggal, tentang Mba Leni yang juga ngga bisa dateng, dan lain-lain. Ngga puas sih. Tapi gimana lagi, lha wong acaranya dah mau mulai.

Akhirnya, acara pengucapan ikrar janji setia sehidup semati itu dilangsungkan. Ngintip prosesi dari pintu samping (males duduk manis di antara tamu undangan) sembari jinjit untuk melihat dengan jelas kedua mempelai. Deni dan Mas Sigit pakai baju merah (udah dua kali ini, 2 orang yang mengaku padaku seneng warna biru tapi ketika nikah pakai baju merah. Apa nanti, aku yang suka warna merah, kalau nikah pakai baju biru, ya???). Gagah dan cantik (hal yang selalu aku sangkal di hadapan mereka. hehehe).

Setelah ijab kabul, mereka ‘digiring’ ke pelaminan. Ngga ada prosesi adat Jawa seperti tarik-tarikan ayam, injak telur, dll, pada acara itu. Meski udah jejer, aku tetep aja melongokkan kepala di pintu samping. Pengen ‘ngejek’ mereka. Hehehehe.
Setelah itu, mereka dikasih seabrek wejangan dengan pakai bahasa Jawa, yang sedikit demi sedikit bisa aku tangkap. Pada saat itu, aku lebih milih duduk di teras rumah neneknya yang ada di antara rumah Deni dan Balai Desa sembari ngobrol sama Mba Dewi (dan dikenalin sama suaminya, Mas Heru), Hesti, dan akhirnya hanya sama Roy.

Sebelumnya, aku juga ketemu sama Eko (adik angkatan di Mahafisippa yang sekarang jadi temen kerja Mas Sigit di Bank Muamalat Solo) dan Papang (saudaranya Mas Sigit, seangkatan sama aku dan Deni, dan sekarang kerja di BPK).

Udah deket, jam setengah 3 sore, udah mulai gelisah. Karena perjalanan masih harus berlanjut ke tempat nenek, sebelum jemput Rio lagi di Jogja. Untungnya, petuah-petuah itu ngga lama berakhir. Dan aku pamitan. Pekewuh juga. Soalnya, para tamu belum beranjak dari tempat duduk. Padahal aku harus kudu segera pamitan sama Deni dan Mas Sigit. Dengan memberanikan diri (dengan memasang tampang sedikit innocence), aku masuk ke Balai Desa, setelah sebelumnya kode-kodean sama Mas Sigit, Deni, dan Bapak-Ibunya Deni. Baru selangkah masuk Balai Desa, aku dipanggil sama seorang ibu. “Mbak Rina.” Langsung aku cari sumber suara dan mendapati seorang ibu sedang tersenyum. “Aduh, siapa yah?” batinku. “Mampir ke rumah, Mbak Rina,” undahg ibu itu. “Terima kasih, bu. Tapi, Rina abis ini harus ke tempat Nenek. Lain kali, ya bu.” sambil masih mikir siapa yah … Aduh, dosa bener aku ini. “Kapan nyusul?” tanyanya lagi. “Minta doanya aja, bu, biar cepet juga,” jawabku, jawaban yang sekaligus permintaan tulusku teramat sangat … hehe.
Setelah basa-basi sedikit itu, aku langsung jalan ke pelaminan. Ke tempat Bapak-Ibunya Deni. Hmmmm, kangen sama mereka. Terus langsung ke Deni dan Mas Sigit. Setelah sempet mengabadikan moment sekali seumur hidup itu (semoga), aku sekalian pamit sama mereka. Abis itu, salaman sama bapak-ibunya Mas Sigit. Sebelum keluar ruangan, pamitan sama ibu tadi, meski masih berusaha membolak-balik memori karena belum inget siapa. Setelah itu, pamit sama keluarga besarnya Deni, Mba Dewi, Dodik, dan Hesti. Oya, sebelumnya juga ketemu sama Roni anak Komunikasi-99 (sekarang dia di PH, salah satu kerjaannya bikin “Toloooong” yang tayang di SCTV).

Huffff … selesai satu agenda hari itu. Tapi perjalanan masih panjang, karena kami harus mampir tempat nenek, trus ke Jogja, trus balik ke Cilacap hari itu juga …
Menyusuri jalanan yang sama ketika berangkat, aku sempet bertanya-tanya, kapan bisa kembali ke sana lagi ya? Kalau pun aku ke rumah Deni, trus aku tidur di mana, sama siapa? Masak aku harus tidur di tengah, di antara Deni dan Mas Sigit … mmmh, mau sih … hekekeke …
Dan akhirnya! Aku ingat siapa ibu yang tadi menyapa aku. Yaitu ibunya Papang. Kami sempat bertemu, sekali atau dua kali di rumah Mas Sigit, bertahun-tahun lalu. Maaf ya, bu … ingatan reena emang ngga begitu baik.

Perempatan Baturetno … pertigaan Giriwoyo … dan akhirnya perempatan (sebenernya perlimaan) Dringo. Sebelum ke tempat nenek, si kuning aku minta belok dulu ke kiri, mampir ke tempat Bulik Larmi. Setelah parkir, langsung aku menuju ke pintu depan sembari was-was, “Kok pintu rapet semua? Pada ke mana, ya?”. Diketok-ketok, ngga ada sahutan dari dalam. Coba dibuka, ternyata pintunya dikunci. Pada saat yang sama terdengar suara gergaji dari arah samping. Alhamdulillah, ada Paklik Nardi di sana. “Rin, rumah paklik dah pindah.” Waduh!! Lha yang aku ketok-ketok tadi rumah siapa? Untung aja dikunci. Coba kalo ngga dikunci … waduh ga kebayang malunya aku …
Trus pindah ke mana? Hihihi … ternyata cuma di sebelah. Tanah yang tadinya kosong, ternyata sudah berdiri satu rumah lagi. Alasannya pindah, “Rumah lama sudah harus direnovasi. Daripada nge-renovasi mending bikin rumah lagi aja.” Waduh!! Padahal rumahnya yang lama kondisinya masih bagus. Jadi kepikiran sama rumahku yang usianya hampir sama denganku. Hiks … kapan aku bisa nyumbang untuk renovasi rumahku itu, ya … Ada-ada aja alasan paklikku itu.

Setelah ngobrol barang sejenak dua-jenak sama paklik dan Budi yang lagi pulang kampung, aku sama Roy ke tempat nenek. Paklik juga ikut, naik motor.
Nggak begitu surprise sih nenek dan paklik-bulikku yang ada di tempat nenek. Karena ibundaku dah ngomong sebelumnya kalau aku mau mampir. Dari obrolan kami, aku tau, ibundaku sakit pas hari Lebaran ke-2 karena kelelahan mempersiapkan silaturahmi keluarga besar yang kebetulan diadakan di tempat nenekku. Tapi katanya, ibunda dah agak sehatan waktu pulang.
Acara kangen-kangenannya ngga bisa lama, karena kami dikejar-kejar waktu. Sebelum pulang nenek tanya, “Calonmu, nduk?” Waduh, jawab apa nih … “Iya, mbah.” … “Trus kapan? Rak sah suwe-suwe, ben aku iso teko.” … “Minta doanya aja, ya mbah” …
Pertanyaan yang sebenernya dah aku prediksi bakal ditanyakan. Tapi tetep aja aku ngga siap ngejawab.

Setelah pamitan sama semua (pekarangan luas milik nenekku itu kini berdiri 3 rumah. Rumah nenek, rumah ‘Lik Musim, dan rumah ‘Lik Mul. Yah, sekalian menemani nenek dan kakek di usia senja mereka), si kuning mampir lagi ke tempat ‘Lik Nardi. Setelah nge-drop ‘Lik Larmi, kami lanjutkan perjalanan ke rumah baru ‘Lik Munah - yang akhirnya memutuskan kembali ke Wonogiri dari Jakarta, yang searah. Sempat sholat Maghrib di rumah ‘Lik Munah, si Kuning sudah melindas aspal kembali. Sebelum keluar Pracimantoro, ngantri bensin untuk bekal ke Jogja. Baru keluar dari pom bensin, di SMS sama Rio yang kehilangan kakaknya. Aduh, jadi ngga enak.
Di perjalanan ke Jogja, kesadaran dah mulai ilang. Mata udah mulai merem melek, bahkan sesekali sempat tak sadarkan diri. Tapi ga lama kemudian bangun lagi. Ngga enak sama supir :p

Berhubung hari udah gelap, jadi bisa nikmatin keramaian kota Jogja dari Pathuk. Indaaaaaah, banget. Pengennya berhenti dulu. Tapi, dari pada dicemberutin banyak orang, kami cuma bisa ngeliat lampu-lampu itu dari balik kaca mobil yang berjalan pelan.
Perjalanan pulang kerasa cepet banget. Tau-tau dah nyampe Jogja dan nyampe di rumah oomnya Roy, jam 8 malam. Tetapi, alamak. Ternyata semua lagi pergi makan malam. Dan setelah ditunggu, mereka baru balik jam 10-an. Hihihi.
Sempet ditahan jangan pulang malam itu, sama oomnya Roy. Tapi berhubung besok pagi Rio harus balik ke Jakarta, akhirnya perjalanan pulang ke Cilacap tetap dilanjutkan malam itu.

Penumpang mobil bertambah dengan tante dan sepupu Roy yang juga mau sama-sama ke Jakarta, besok. Yang di belakang setir, ganti si Rio, untuk memberi kesempatan Roy istirahat. Dan benar saja, baru jalan dikit, semua penumpang sudah ‘tewas’. Sempet ngelilir sesekali di perjalanan sebelum akhirnya melanjutkan tidur lagi. Akhirnya, yang ditakutkan kejadian juga, macet di Gombong!! Hujan deras lagi (sebenarnya sih ngga ngaruh, lha wong ada di dalem mobil). Lama, macetnya dan lama pula kami tertidur). Sampai-sampai, Rio yang tadinya ada di belakang setir entah sejak kapan sudah berganti Roy. Katanya sih, macet di Gombong sampai 1,5 jam. Yah, ngga terlalu lama sih. Tapi tetep aja, lama.

Setelah itu perjalanan lancar. Dan akhirnya, sekitar jam 4-an, si Kuning mulai masuk wilayah Cilacap.
Huffff, kalo diitung-itung, hampir 24 jam aku ada di mobil … Capek sih, tapi rasa lelah itu terbayarkan oleh kebahagiaan pasutri baru Deni dan Mas Sigit, ketemu dengan keluarga besar mereka, ketemu sama keluarga besarku, dan ketemu dengan sebagian keluarga Roy. Yah, impaslah.

Setelah itu, seharian aku meringkuk di tempat tidur … hihihi …

… and that’s how the story ended …

Rabu, 23 November 2005, pk. 20.36 WIB

2 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://reena.blogsome.com/2005/11/23/tentang-sebuah-perjalanan-yang-menyenangkan-2/trackback/

  1. Rina..rina….ngga berubah dari dulu ….
    ngga jelas….sekaligus ngga fokus…
    sampe pegel baca ceritanya biar nangkep
    inti ceritanya…

    kamu mo nikah kapan to ????

    Comment by Om Tio — December 27, 2005 @ 2:54 pm

  2. *oom jrood
    haghaghag!!!
    akhirnya ada juga orang yg baca (tuntas) tulisanku ini. ini kan cuma catetan perjalanan aja, mas … jadi emang detil banget, dan emang ga ada inti ceritanya … namanya juga perjalanan yang menyenangkan, jadi setiap menitnya selalu menyenangkan dan sayang untuk dilupakan … hekekeke …
    nikah???? want to know ajah! lagi cari bahan untuk disebarin di milis yah??? dasar penjahat! :p

    Comment by reena — December 28, 2005 @ 4:28 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here