Kukirim doa
Manusia laksana buih di luas wajah samudera
yang mengambang di atas tipis permukaan air
Ketika angin bertiup, ia hilang
seolah ia tidak pernah ada
Begitulah hidup kita, dihembus oleh kematian
(Kahlil gibran)
Pukul 5 kurang tadi pagi, telepon di rumah berdering. Suara ibundaku yang lama tidak kudengar -tepatnya sejak hari Minggu lalu, terdengar dari ujung telepon. Di tengah usahanya menahan isak, ibundaku mengabarkan bahwa adiknya tercinta –Oom Gatot, akhirnya menghembuskan nafas terakhir sekitar pukul 04.30 WIB.
Innalillahi wa innailaihi roji’un
Sesungguhnya kita milik Allah dan akan kembali kepada-Nya
Om Atot –begitu kami biasa panggil Oom Gatot, sudah terbaring kritis sejak Sabtu malam (3/12) akibat kecelakaan mobil. Berdasarkan informasi yang aku terima, mobil yang dikendarai Oom Atot masuk jurang. Dengan siapa, kapan, atau bagaimana kronologisnya aku tidak tahu pasti. Karena Minggu pagi, setelah ibundaku mendapat kabar (tak lengkap) itu, ibundaku langsung ke Bandung dan selanjutnya ke Jakarta bersama Andung (nenek), dan Uwak. Setelah itu, kondisi Oom Atot hanya aku terima dari Oom Wowo.
Kondisi Oom Atot kritis karena mengalami pendarahan pada otaknya, hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhir dini hari tadi.
Meski tidak bisa hadir dalam pemakamannya hari ini, teriring doaku agar Allah mengampuni segala dosanya dan menerima segala amal ibadahnya. Semoga Allah juga berkenan melapangkan kuburnya serta menempatkannya di tempat yang Ia muliakan. Amin.
Jumat, 9 Desember 2005, pk. 13.41 WIB

innalillahi wa inna ‘ilaihi roji’un
ikut berduka cita, ‘na!
jadi bunda ke jakarta karena adiknya meninggal ya?
Comment by irfan — December 13, 2005 @ 4:49 am
*irfan
makasih, mas.
iya, ibunda udah di sana seminggu lebih
tapi hari ini (selasa, 13/12) dah pulang kok …
Comment by reena — December 13, 2005 @ 7:19 am